EPISTEMOLOGI ILMU DALAM ISLAM: WAHYU, AKAL, PENGALAMAN, DAN PERBANDINGANNYA DENGAN EPISTEMOLOGI BARAT
DOI:
https://doi.org/10.60145/jdss.v2i10.262Keywords:
Epistemologi Islam, Wahyu, Akal, Panca Indra, Ilmu PengetahuanAbstract
Tulisan ini membahas epistemologi ilmu dalam Islam dengan menyoroti sumber-sumber utama pengetahuan, metode perolehannya, serta perbandingannya dengan epistemologi Barat modern. Epistemologi Islam dibangun di atas fondasi wahyu, akal, dan pancaindra yang bersifat integratif dan tidak saling bertentangan. Selain itu, Islam juga mengakui peran fitrah, pengalaman historis, serta sumber-sumber tambahan seperti ilham dan firasat dalam batas-batas tertentu. Metode perolehan pengetahuan dalam Islam mencakup observasi empiris, penalaran rasional, al-khabar al-shadiq (berita yang benar), serta bimbingan wahyu sebagai sumber tertinggi kebenaran.Berbeda dengan epistemologi Barat modern yang cenderung membatasi sumber pengetahuan pada akal dan pengalaman inderawi serta mengesampingkan dimensi metafisik, epistemologi Islam menawarkan pendekatan yang komprehensif dan seimbang antara aspek rasional, empiris, dan spiritual. Dengan demikian, epistemologi Islam tidak hanya mampu menjelaskan realitas fisik, tetapi juga realitas metafisik dan nilai-nilai moral. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keunggulan epistemologi Islam terletak pada kemampuannya mengintegrasikan berbagai sumber pengetahuan dalam satu kerangka yang harmonis, sehingga relevan dalam membangun paradigma ilmu yang utuh, bernilai, dan berorientasi pada kebenaran hakiki.
Downloads
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Sayyid Amir Ali Madani, Amirul Bakhri (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












